Resensi: Riwayatmu, Puan — Etalase Pemikiran Perempuan 2025

Oleh: Shindy Lestari

Sebagai perempuan yang lahir dan tumbuh di bawah naungan narasi tunggal era Orde Baru, ingatan saya berhenti pada bacaan-bacaan dan tontonan sejarah yang telah disaring ketat oleh pemerintahan yang menjabat saat itu. Melalui penelusuran riwayat hidup Umi Sardjono (diriwayatkan oleh Ruth Indirahayu), Oei Sian Yok (oleh Brigitta Isabella), dan Salomi Rambu Iru (oleh Martha Hebi dan Yustina Dama Dia), ada perasaan hangat ketika saya diajak untuk duduk mendengarkan para periwayat menuturkan biografi, perjuangan, serta pemikiran 3 perempuan tersebut dalam Etalase Pemikiran Perempuan 2025 bertajuk “Riwayatmu Puan”. Sebuah forum yang tidak hanya merayakan pencapaian para Puan dan Queer, melainkan juga sebagai ruang perlawanan yang menolak menyingkirkan mereka dari pencatatan sejarah.

Saat dua penonton di akhir sesi berujar, “Ini pertama kalinya saya mendengar nama mereka,” saya seperti sedang bercermin. Ketidaktahuan mereka terhadap sosok Umi Sardjono (1923-2011), Oei Sian Yok (1926-2002), dan Salomi Rambu Iru (1955) adalah persis sama dengan apa yang saya rasakan selama menonton daring dari layar komputer. Merenungkan kembali lini masa kehidupan mereka, memicu kesadaran personal akan apa arti sejarah dan bertahan. Kepergian Ibu Umi dan Ibu Oei ternyata hanya berjarak 15-25 tahun di usia saya saat ini, jeda waktu yang tergolong singkat untuk dianggap sebagai sejarah yang usang dan jauh. Bahkan perjuangan dan inisiatif Mama Salomi yang sudah lebih dari 20 tahun mendampingi korban Kawin Tangkap, istilah yang dipopulerkan juga oleh Mama Salomi tentang tradisi nikah paksa yang dilakukan dengan cara menangkap perempuan secara harfiah, masih dilanjutkan oleh Solidaritas Perempuan dan Anak (SOPAN) Sumba sejak 2017. Dari acara yang berlangsung hampir 1,5 jam ini saya melihat ada nafas perjuangan yang sebenarnya tidak terputus, meskipun dipaksa untuk hilang dari sejarah. Kerja-kerja kolektif seperti yang diinisiasi oleh Sekolah Pemikiran Perempuan membuktikan bahwa ingatan bisa dirawat, dan sejarah yang sempat dipaksa tenggelam bisa dimunculkan kembali ke permukaan walaupun dengan banyak tantangan tentunya.

Dalam upaya memunculkan kembali sejarah tersebut, tindakan memberikan mikrofon kepada para penutur di atas panggung menjadi sebuah bentuk nyata dari perlawanan terhadap amnesia kolektif. Mereka yang diberi kesempatan untuk bersuara bukanlah orang asing yang berjarak, melainkan individu-individu yang merawat pertemanan erat atau yang isunya beririsan langsung dengan apa yang mereka perjuangkan sehari-hari. Kerja kultural yang sarat akan relasi kemanusiaan ini kemudian dimanifestasikan ke dalam bentuk yang lebih langgeng: pengarsipan. Melalui pembuatan arsip digital yang dapat diakses oleh semua orang, narasi-narasi para Puan dan Queer ini kini dapat lebih mudah diakses semua orang. Namun, mengandalkan ruang digital saja tidaklah cukup. Merenungkan kembali pemikiran Audre Lorde bahwa "the master's tools will never dismantle the master's house" (perangkat milik penguasa tidak akan pernah bisa merobohkan rumah penguasa). Ketika platform digital masih rentan dikuasai oleh modal dan infrastruktur para 'Tuan Rumah', upaya pelestarian ini masih membutuhkan benteng cadangan. Mungkin bentuk-bentuk kolaborasi dengan pemikir feminis lain maupun organisasi yang visinya sejalan, dapat menjadi alternatif penyimpanan dan penyebaran alternatif.

Tulisan ini merupakan hasil dari tugas kelas Sekolah Pemikiran Perempuan 2026, yakni resensi dan refleksi peserta kelas terhadap sesi-sesi yang berlangsung di Etalase Pemikiran Perempuan (Etalase). Saksikan tayangan yang diulas dalam tulisan ini melalui tautan berikut.

Previous
Previous

Refleksi: Bongkar Kata di Etalase 2025

Next
Next

(Mem) Bongkar Kata: (Mem) Bongkar Diri