(Mem) Bongkar Kata: (Mem) Bongkar Diri

Oleh: Dewi Rahmawati

Ada kalanya sebuah kata terasa begitu biasa karena terlalu sering kita dengar. Kita mengucapkannya, menuliskannya, bahkan menggunakannya untuk menilai orang lain tanpa pernah benar-benar berhenti untuk bertanya: dari mana kata itu berasal? Siapa yang memberinya makna? Dan untuk kepentingan siapa makna itu dipertahankan? (– mengingatkan saya akan tugas TOPONIMI yang belum saya kerjakan)

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang saya pikirkan setelah menyimak BONGKAR KATA. Melalui empat kata—menggali kubur, bungkam, merdeka, dan revolusi—saya tidak hanya diajak memahami bahasa, tetapi juga diajak melihat kembali pengalaman hidup, sejarah, dan posisi saya sendiri di tengah masyarakat.

Kata pertama adalah gali kubur. Tapi beneran ngrasa merinding sih–walau lewat You Tube–proses pemanggilan mamak nenek itu membuat saya merasakan– iya iya banyak yang hilang – banyak yang nggak ditemukan – dibuang – gimana ya perasaanya mereka – atau bagimana perasaan yang ditinggalkan. Aahh –

Menggali Kubur

Dalam kehidupan saya, ungkapan ini sering digunakan untuk melarang saya atau pun seseorang untuk membuka kembali masa lalu nya – udah lah move onyang lalu biar berlaluwis’ ndak usah diungkit-ungkit – sing wis ya wis. Kalimat yang begitu langgeng sering saya dengarkan di lingkungan keluarga dan bahkan lingkungan sekitar. Ada yang belum selesai ada yang belum tuntas – tapi kita – saya seakan dipaksa untuk menutup buku itu. Namun diskusi tersebut membuat saya berpikir bahwa ada hal-hal yang justru harus digali kembali. Bukan untuk menyalahkan atau menghidupkan konflik, melainkan untuk memahami akar ataupun solusi penyikapan dari berbagai persoalan yang masih kita-saya hadapi hari ini. Atau mungkin memang ada kubur yang perlu dibiarkan tenang, tetapi ada pula kubur yang harus digali agar tidak kehilangan arah atau jati diri yang sesungguhnya.

Kata berikutnya adalah bungkam. Saya terkesima dengan saudara di PAPUA yang memilih memutus atau tidak menyampaikan hal hal tidak baik- agar masa depan keturunanya hidup dengan lingkungan yang penuh kasih dan cinta damai. Walau ternyata- kondisinya sama – dan mungkin malah tambah buruk. Tapi saya salut banget -sumpah-, kenapa? karena lingkungan saya selalu berangkat ‘DULU ITU ..... JADI SEKARANG KITA HARUS ........’. Seakan harus turun temurun – kejadian itu harus diketahui (macam musuh bebuyutan). Selanjutnya, ada banyak orang yang sebenarnya memiliki suara, tetapi tidak memiliki ruang untuk berbicara. Ada yang menyimpan pengetahuan luar biasa, tetapi memilih diam karena merasa tidak cukup penting untuk didengar. Diskusi Bungkam membuat saya menyadari bahwa kebungkaman tidak selalu lahir dari pilihan pribadi. Kadang ia lahir dari rasa takut, dari pengalaman diremehkan, atau dari struktur sosial yang tidak memberi kesempatan seseorang untuk berbicara. Khawatirnya, yang banyak dan berani bicara itu adalah yang penuh kebohongan. Ingat NAZI – Kebohongan yang diucapkan berulang-ulang maka akan menjadi kebenaran – heheheh.

Kemudian ada kata merdeka. Selama ini saya memaknai kemerdekaan sebagai kebebasan dari penjajahan atau kebebasan menentukan pilihan hidup. Namun melalui diskusi tersebut, saya merasa bahwa merdeka adalah proses yang jauh lebih panjang. Aaah – saya tiba tiba teringat pemateri menyampaikan, “Aaaa politik-sudah lelah, capek sekali mendengarkan” - . Saya jadi teringat atas apa yang di sampaikan mentor saya. Politik – bisa dibagi menjadi dua – p kecil atau P besar- karena nyataya selama ini kita terjebak dengan p kecil yang hanya terkait kontestasi. Pada politik P BESAR – kita semua bertanggung jawab atas itu – karena kita semua adalah pemimpin dalam bidangnya – politik P BESAR adalah bagaimana kita semua agar memberikan dampak dan menjadi bagian dari solusi.

Kata terakhir adalah revolusi. Selama ini revolusi sering dibayangkan sebagai perubahan besar yang dramatis. Namun saya justru menemukan makna lain yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Revolusi bisa hadir dalam bentuk yang sederhana: cara baru memandang teman teman, keberanian mendengarkan suara yang selama ini diabaikan, atau membuat sebuah revolusi bahasa yang dimaksudkan untuk saling menjaga keamanan satu sama lain.

Barangkali revolusi tidak selalu dimulai dari jalanan atau panggung politik. Kadang ia dimulai dari ruang-ruang kecil: ruang kelas, ruang keluarga, ruang diskusi, bahkan ruang dalam diri sendiri. Revolusi terjadi ketika cara kita melihat dunia berubah.

Pada akhirnya, yang saya rasakan dari acara BONGKAR KATA bukanlah sekadar bertambahnya pengetahuan tentang empat kata. Saya justru merasa sedang diajak membongkar lapisan-lapisan cara berpikir yang selama ini saya anggap biasa. Bahasa ternyata bukan hanya alat komunikasi; ia adalah tempat berbagai pengalaman, kuasa, ingatan, kekuatan, perlawanan dan harapan saling bertemu.

Tulisan ini merupakan hasil dari tugas kelas Sekolah Pemikiran Perempuan 2026, yakni resensi dan refleksi peserta kelas terhadap sesi-sesi yang berlangsung di Etalase Pemikiran Perempuan (Etalase). Saksikan tayangan yang diulas dalam tulisan ini melalui tautan berikut.

Previous
Previous

Resensi: Riwayatmu, Puan — Etalase Pemikiran Perempuan 2025

Next
Next

Hari Buruh 2026: Tanpa Feminisme, Gerakan Buruh Setengah Jalan