Refleksi: Bongkar Kata di Etalase 2025

Oleh: Angelique Maria Cuaca

BONGKAR KATA di Etalase Pemikiran Perempuan 2025 mengajak kita untuk membaca ulang kata-kata yang selama ini terasa biasa saja, tapi ternyata diam-diam menyimpan sejarah kekuasaan, trauma, dan pengalaman hidup yang rumit. Kata seperti “Gali Kubur”, Bungkam”, “Merdeka”, dan “Revolusi” akhirnya terasa bukan sekadar kata, tapi seperti pintu untuk memahami banyak hal yang selama ini luput kita pikirkan.

Dari membongkar satu atau dua kata, kita ternyata juga sedang membongkar cara pandang lama yang penuh relasi kuasa. BONGKAR KATA membuat saya sadar bahwa bahasa tidak sesederhana alat komunikasi. Kata-kata yang kita dengar sehari-hari bisa membentuk cara kita memahami dunia, sejarah, dan tubuh perempuan. Di dalamnya ada lapisan trauma, kekuasaan, dan pengalaman yang saling bertumpuk.

Kata bisa menjadi pintu untuk melihat penindasan terhadap perempuan sekaligus alat untuk menyingkap kebohongan sejarah. Tetapi di saat yang sama, kata juga bisa membuat kita tidak sadar terhadap kenyataan yang sedang disembunyikan. Ada istilah yang terdengar normal atau bahkan mulia, padahal dipakai untuk menutupi kekerasan dan ketidakadilan. Dan karena makna itu terus diulang, kita perlahan terbiasa menerimanya begitu saja.

Yang menarik, setiap kata dibaca dari pengalaman perempuan yang berbeda-beda. “Merdeka” bagi perempuan Papua tentu punya makna yang berbeda dari “merdeka” dalam narasi nasional negara. Begitu juga “revolusi” yang dibaca ulang melalui tubuh transpuan dan praktik perawatan kolektif. Dari situ terasa bahwa satu kata tidak pernah benar-benar punya makna tunggal. Pengalaman hidup yang berbeda membuat makna kata ikut bergeser, bahkan saling bertabrakan.

Selama ini negara sudah banyak mengubur narasi tentang perempuan. Banyak pengalaman perempuan dihapus, dibungkam, bahkan ditulis dari sudut pandang kekuasaan. Karena itu, ketika Astrid Reza membicarakan “gali kubur”, kata tersebut dimaknai lebih dalam dari sekadar aktivitas menggali makam. Ia menjadi cara untuk mengumpulkan kembali perca, serpihan, dan potongan-potongan pengetahuan perempuan yang selama ini tercecer, dihapus, atau sengaja disingkirkan dari ingatan kolektif. 

Sementara dalam pembahasan “bungkam”, diam ternyata tidak sesederhana tidak berbicara. Di sana ada trauma, rasa takut, dan cara bertahan hidup dari kekerasan yang diwariskan terus-menerus. Juga penanda bahwa kekerasan masih berlangsung, meski dalam rupa yang berbeda.

Ke depan, menurut saya akan menarik juga jika ruang seperti ini mulai membahas pengalaman disabilitas dan persoalan abelisme. Sebab bahasa sering kali diam-diam membentuk cara masyarakat melihat tubuh yang dianggap “normal” dan “tidak normal”. Mungkin dari sana, kita bisa melihat bagaimana kata-kata tertentu dipakai untuk mengatur, membatasi, bahkan menghapus pengalaman perempuan seniman dengan disabilitas dari ruang sosial maupun sejarah.

Tulisan ini merupakan hasil dari tugas kelas Sekolah Pemikiran Perempuan 2026, yakni resensi dan refleksi peserta kelas terhadap sesi-sesi yang berlangsung di Etalase Pemikiran Perempuan (Etalase). Saksikan tayangan yang diulas dalam tulisan ini melalui tautan berikut.

Previous
Previous

Resensi: Konser Ceramah Etalase Pemikiran Perempuan 2025

Next
Next

Resensi: Riwayatmu, Puan — Etalase Pemikiran Perempuan 2025