Resensi: Konser Ceramah Etalase Pemikiran Perempuan 2025

Oleh: Neng Marlina Efendi

Pada akhir Konser Ceramah diakhiri oleh satu kata yang menurut saya lebih dari sebuah bentuk perjuangan melalui suara yaitu REBUT!

“Etalase Pemikiran Perempuan: REBUT!”

Kata “REBUT” yang biasanya mengandung arti paksaan, mau gak mau dalam Konser Ceramah mengandung makna bagaimana ini adalah suatu siasat untuk meruntuhkan dominasi laki-laki dalam panggung budaya. Ketika membaca sejarah, kita berhadapan pada fakta tulisan sejarah yang ada bahwa tubuh, pengalaman, dan narasi perempuan dalam seni kerap didefinisikan oleh sudut pandang laki-laki (male gaze). Perempuan sering kali hanya ditempatkan sebagai objek estetis (muse, model, atau subjek yang pasif), bukan sebagai kreator atau pemikir. Makna "Rebut" lebih kuat dari sekedar merampas. Yakni mengambil alih hak untuk bersuara dan mendefinisikan diri sendiri. Etalase Pemikiran Perempuan "Konser Ceramah" merupakan bentuk perjuangan Perempuan yang tidak lagi menunggu "diberi panggung" atau "diizinkan berbicara," melainkan menciptakan sendiri narasi, kritik, dan standar estetikanya.

Jika menelaah pemaknaan dekolonisasi Linda Tuhiwai Smith, Konser Ceramah ini adalah implementasi gagasan bahwa tradisi tutur itu adalah instrumen dalam upaya untuk mengkritik dominasi barat terutama patriarki yang menyebut bahwa pengetahuan yang sah itu adalah pengetahuan yang seharusnya ditulis atau bentuk tertulis. Sementara kita tahu bahwa sejarah dalam bentuk tulisan adalah sejarah yang dibuat oleh laki-laki. Saya melihat sepanjang 1 jam 58 menit ini, Konser Ceramah telah berhasil memberikan gambaran bahwa menghidupkan kembali tutur perempuan adalah bagian dari agenda "merebut kembali" ruang budaya. Gerakan yang dilakukan oleh panelis merupakan upaya untuk mengembalikan agensi perempuan bukan sebagai objek yang diceritakan dalam sejarah orang lain (his-story), melainkan sebagai subjek utama yang menuliskan sejarahnya sendiri melalui kekuatan suara dan ingatan (her-story).

Hadirnya repositori atau arsip seperti Etalase yang berhasil mengumpulkan lebih dari 50 jam rekaman video mengenai pemikiran dan pengalaman feminis adalah sebuah pencapaian perebutan yang luar biasa sekaligus intervensi kebudayaan yang sangat strategis. Ini merupakan siasat yang cerdik karena dengan adanya akses publik secara terbuka dan tanpa biaya maka secara tidak langsung etalase memberikan kesempatan yang SAMA pada semua perempuan/gender tanpa melihat geografisnya untuk mendapatkan hak yang sama untuk belajar, meriset, dan merefleksikan pemikirannya.

Tulisan ini merupakan hasil dari tugas kelas Sekolah Pemikiran Perempuan 2026, yakni resensi dan refleksi peserta kelas terhadap sesi-sesi yang berlangsung di Etalase Pemikiran Perempuan (Etalase). Saksikan tayangan yang diulas dalam tulisan ini melalui tautan berikut.

Next
Next

Refleksi: Bongkar Kata di Etalase 2025