SPP Goes to School dan Telusur Waris di MIWF 2026: Kembali Mengingat, Merawat dari Dalam
Oleh: Christine Toelle
Teks ini adalah refleksi singkat atas partisipasi Sekolah Pemikiran Perempuan dalam Makassar International Writers Festival 2026
Begitu banyak festival yang muncul di layar gawai kita dalam beberapa bulan terakhir. Kemunculan poster, jadwal, nama acara, seniman, dan pergerakan dari satu kota ke kota lain menandai keberadaan festival secara programatik—ditopang oleh kerja komunitas, para penyelenggara, dan para seniman. Pertanyaannya: bagaimana kita bisa membuka kemungkinan agar festival yang digagas dalam jaringan betul-betul memperhatikan manusianya?
Terlebih lagi dalam kondisi Indonesia yang tidak baik-baik saja.
Di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2026 lalu, kerangka programatis tersebut tentunya tidak kalah penting. Kerja sama Sekolah Pemikiran Perempuan (SPP) dengan MIWF 2026 dimulai dengan penyusunan yang juga bersifat programatis. Akan tetapi, proses ini dapat berlangsung dan bertahan dari kerja lain yang lebih rimpang dan kolektif, melalui setiap kesempatan berbagi kabar, dalam pendampingan ruang aman, hingga perawatan kemungkinan kerja sama.
Terdapat semai harapan agar apa yang terjadi dalam rentang durasi acara tidak berhenti sebagai peristiwa sekali lewat dan terisolir dari kemungkinan untuk tumbuh dalam akar-akar yang lebih tersebar. Tema Re-co-ordinate dari MIWF 2026 memberi pengingat akan kerja-kerja tersebut. Di tengah keadaan carut-marut negara kita, MIWF mengusulkan perlunya kembali menyusun ulang relasi, pengetahuan, dan gerakan bersama.
Tulisan ini membahas MIWF 2026 yang telah selesai sekitar tiga bulan lalu, ketika saya hadir sebagai bagian dari Sekolah Pemikiran Perempuan (SPP). Melalui Telusur Waris dan SPP Goes to School, kami membawa waris dan ingatan ke dalam ruang kelas serta bersama-sama menyulam karya rupa secara partisipatif. Keterlibatan SPP di MIWF 2026 menjadi salah satu cara kami membangun kerja perawatan sebagai bagian dari kerangka epistemik, yaitu pengetahuan yang bertahan sebelum, selama, dan sesudah pelaksanaan festival.
Karya Telusur Waris berawal dari tatap muka jaringan SPP dalam Etalase Pemikiran Perempuan 2025, di mana pemikiran dan pengalaman feminis terekam dan dibagikan kepada publik. Saat itu, kami bersama-sama mencoba menautkan titik berat refleksi pada kata waris, melalui gagasan kuratorial, manifesto, hingga kerangka program.
Sementara SPP Goes to School telah berlangsung sejak tahun 2024, kami pertama kali terlibat sebagai bagian dari rangkaian acara MIWF. Lalu hadir kembali sebagai SPP Goes to Campus dalam MIWF 2025, dan setelah itu, di ruang lain di Yogyakarta, sebagai program pengantar Etalase Pemikiran Perempuan 2026 bersama Kampung Halaman. Kini SPP Goes to School kembali ke Makassar, masih dalam upaya memperdalam pengetahuan tentang para pemikir puan. Melalui dua program tersebut, tulisan ini membaca MIWF 2026 sebagai medan perawatan di mana Telusur Waris dan SPP Goes to School terus berupaya meneruskan ingatan dan pengetahuan feminis.
ººº
SPP Goes to School pertama kali dilaksanakan pada 20 Mei 2024, berkolaborasi dengan MIWF 2024, bertempat di SMA Negeri 9 Gowa dan diampu oleh Margareth Ratih Fernandez, Reski Ciki, dan Ilda Karwayu. Program ini lahir sebagai perpanjangan dari Seri Pemikiran Puan, yaitu kumpulan tulisan hasil belajar di kelas SPP yang memuat biografi dan warisan pemikiran para pemikir puan yang diolah kembali bagi generasi muda yang hidup di tengah gelombang informasi dan algoritma internet. Pada edisi pertama, empat pemikir perempuan yang diperkenalkan adalah Charlotte Salawati (Salawati Daud), Saparinah Sadli, Saadah Alim, dan Marianne Katoppo.
Tahun ini, SPP Goes to School dilangsungkan pada 13 Mei 2026, sehari sebelum MIWF 2026 resmi dibuka di Benteng Rotterdam. Teman kami, Wilda Yanti Salam dan Titah AW, memasuki ruang kelas khusus putri di SMA Negeri 17 Makassar, memperkenalkan dua nama yang kerap luput tercatat dalam teks-teks buku pelajaran formal, sementara teman-teman SPP lain menemani jalannya sesi tersebut.
Kelas ini kemudian diisi dengan materi presentasi dan sesi kreasi zine bersama. Kami berangkat dari satu pertanyaan sederhana: perempuan hebat siapa yang kamu kenal? Jawaban yang muncul beragam dan tidak begitu mengejutkan, seperti nama-nama influencer dan tokoh perempuan internasional lainnya. Nama-nama tertentu tentunya bergerak lebih lengang dalam ruang-ruang kelas, media sosial, dan institusi pendidikan, sementara nama lain lebih sering luput dibawa ke generasi yang lebih muda.
Sama seperti seri sebelumnya, SPP Goes to School kali ini turut mengartikulasikan kembali pemikiran para puan asal Sulawesi sebagai harapan agar pemikiran mereka dapat diteruskan dan direfleksikan oleh generasi baru yang hidup berpuluh-puluh tahun setelahnya. Selama hampir satu jam, Wilda dan Titah memperkenalkan Charlotte Salawati (Salawati Daud) dan Colliq Pujie.
Charlotte Salawati menghubungkan pendidikan, pers, kebidanan, dan politik lokal di Makassar. Ia mengajar, memimpin sekolah, menulis tentang gerakan nasionalis hingga dipecat oleh pemerintah kolonial, lalu menggunakan pengalaman serta pengetahuannya dalam kegiatan politik hingga menjadi Wali Kota Makassar pada 1949.
Sementara itu, Colliq Pujie merawat pengetahuan Bugis dari masa pengasingan di Makassar pada masa kolonial. Selama hampir dua puluh tahun, ia mengumpulkan, menyusun, dan menyunting naskah sureq I La Galigo menjadi dua belas jilid atau 2.851 halaman folio, sekaligus mengembangkan aksara Bilang-Bilang melalui pertemuan antara aksara Bugis dan aksara Arab.
Pada sesi pertama, Wilda dan Titah memperkenalkan riwayat hidup serta pemikiran masing-masing. Kami membahas pemikiran mereka secara reflektif: bagaimana perempuan dapat bekerja dari pinggiran kekuasaan dan bagaimana pengetahuan lokal bertahan.
Pada sesi kedua, setiap peserta menerima selembar kertas A4 yang dipotong di bagian tengah dan dilipat menjadi delapan halaman kecil. Pertama-tama, mereka menuliskan judul. Pada halaman berikutnya, mereka memilih satu kata, kutipan, simbol, atau kesan yang tertinggal dari pertemuan hari itu. Lalu, mereka memilih satu gagasan dari kedua tokoh yang terasa dekat bagi perempuan seusia mereka, menggambar peta diri yang menandai tempat untuk didengar, dibatasi, dan bertumbuh, serta membayangkan apa yang hendak mereka katakan jika bertemu dengan Charlotte atau Colliq.
Pada halaman terakhir, mereka menulis surat kepada diri sendiri tentang hal-hal yang ingin diteladani dan diwujudkan di masa depan. Melalui tulisan, gambar, warna, dan ilustrasi dalam lembar-lembar zine, peserta menempatkan diri mereka di hadapan sejarah, mencari hubungan antara nama-nama yang telah mereka dengar dengan hidup yang sedang mereka jalani. Pengetahuan tinggal dalam pikiran, lalu turun ke tangan dan tubuh-tubuh lainnya.
Sehari sesudah itu, MIWF 2026 dibuka dan Telusur Waris telah terpasang di tempatnya di salah satu ruang Gedung E4 Benteng Rotterdam. Di ruang itu, karya tumbuh dari hasil belajar bersama dan membawa waris, reproduksi sosial, serta ingatan ke dalam percakapan yang kian genting. Telusur Waris adalah sebuah karya rupa partisipatif oleh Lusiana Limono yang pertama kali hadir dalam Etalase Pemikiran Perempuan 2025 dan kemudian menjadi bagian dari kerangka kuratorial SPP di ruang publik seperti MIWF 2026.
Dalam karya ini, publik berhadapan dengan sebuah pertanyaan: apa yang diwariskan kepadamu dan apa yang hendak kamu wariskan? Kemudian mereka dipersilakan untuk mengambil selembar kain, menulis atau menggambar sketsa dengan spidol kain, lalu menjepitnya pada lingkar pemidangan. Sesudah itu, mereka memilih benang dan sisa kain, lalu mulai menyulam.
Sebagian pengunjung sudah mengenal cara menyulam, sebagian lagi baru pertama kali mencobanya. Dalam proses tersebut, ada benang yang putus, jarum yang tertancap pada baju sendiri, atau kain yang bergeser dari pemidangan. Lusiana dan saya bergantian tinggal di ruang itu bersama teman-teman MIWF, memandu cara memasukkan benang, membuat simpul, dan melanjutkan sulaman yang mungkin terhenti di antara jeda istirahat.
Ketika mereka selesai, kain-kain itu digantung dengan peniti bersama karya-karya lain di Telusur Waris. Selama festival terbuka, ruang pamer kami berubah menjadi tempat bagi para partisipan untuk beristirahat, duduk, dan bekerja dengan sulaman tangan, serta berhenti sejenak dari arus acara untuk turut berbagi cerita masing-masing.
Seorang ibu menyulam kenangan anaknya di permukaan kain. Anak-anak laki-laki juga datang dan bercerita, mengingat ajaran nenek dan ibu mereka, lalu mengambil benang dan turut menyulam. Ada juga yang mencoba mengingat kembali sudut-sudut rumah adat yang kini telah hilang akibat pembangunan strategis negara. Ruang itu dipenuhi cerita-cerita yang tak kami perhitungkan sebelumnya: kisah tentang duka, ajaran, hingga kenangan tentang tempat yang telah lenyap.
Kain-kain itu menampung yang lama dan yang baru, sementara percakapan yang kian mendalam selanjutnya berlangsung dalam artist talk pada 15 Mei. Saat itu, Lusiana menandai bagaimana kain, jarum, dan benang di ruang MIWF terasa terlepas dari konstruksi gender yang selama ini erat dikaitkan dengan kerja tekstil. Semua partisipan tampak nyaman menyentuh kain perca tanpa rasa canggung.
Saya sendiri mengingat bagaimana rajutan atau sulaman di ruang itu memanggil kembali benda-benda yang biasa hadir di rumah oma, di rumah-rumah keluarga. Sementara itu, moderator sesi, yang juga merupakan bagian dari SPP, Chiki mengingatkan bahwa ibunya pernah membelikan alat sulam sewaktu kecil sebagai latihan fokus dan kerja kognitif. Medium tersebut memanggil pulang pengalaman yang tersimpan dalam tubuh-tubuh kami yang terlibat.
Beberapa peserta lalu mengartikulasikan waris melalui sulaman mereka sendiri. Seorang di antaranya menyulam tentang keadilan sosial, supaya kelak kerjanya dapat diteruskan kepada anak-anak dan cucu-cucu. Teman lainnya menyulam tanda-tanda untuk mengingat kebaikan dan menyambutnya dalam hidup. Seorang lagi menyulam wajah perempuan dan menjadikannya satu mata terluka berhias kelopak bunga; sebab pengalamannya sebagai seorang perempuan mengenal rasa tidak percaya, pintu yang harus terus dikunci, jam pulang yang dihitung dengan ketat, dan diri yang berjaga bahkan ketika hendak tertidur.
Ada pula yang membawa kisah orang-orang pesisir ke dalam sulamannya: mereka hidup di antara ancaman penggusuran, rumah susun yang belum tegak, laut yang menerima sampah, dan mata air yang menjauh dari mereka yang tinggal paling dekat dengannya. Maka ia menyulam kata-kata ini: jaga laut, jaga bumi; semua berhak hidup.
Seorang lainnya mengingat bunga-bunga yang dirawat ibunya, lalu menyulam keberanian untuk berbicara sesuai dengan keyakinannya. Yang lain mengingat pancak di daerah asalnya, sebagai bagian dari kunjungan kepada kerabat sebagai tanda perlindungan yang masih diingat oleh orang-orang rumah. Ada pula yang menyulam budaya setempat, sambil memikirkan bagaimana ia akan berjalan bersama generasi yang datang sesudahnya di tengah arus media sosial. Demikianlah kain-kain itu juga menerima ingatan tentang rumah dan laut, tentang tubuh yang berjaga, tentang yang diwariskan oleh ibu, dan tentang dunia yang hendak dijaga bersama.
Sulaman dan percakapan di selasar Benteng Rotterdam menempatkan waris sebagai permasalahan yang sangat nyata. Dalam diskusi itu, salah satu rekan kami, Keni Soerjaatmadja, berbicara tentang keinginannya meneruskan kerja analog kepada anak-anaknya, agar mereka tahu bahwa sesuatu yang layak dicapai sering kali membutuhkan waktu, kesabaran, dan kesediaan untuk melambat. Saya menangkap pernyataan ini sebagai salah satu inti penting dari Telusur Waris.
Karya ini menahan kita di hadapan waktu yang tidak tunduk pada kecepatan platform, mengajak tangan untuk berhenti sejenak dalam prosesnya. Apa yang bisa kita wariskan jika hidup kita sendiri bergerak terlalu cepat?
ººº
Kerja perawatan di SPP hidup dalam program-programnya, sekaligus dalam cara program itu disusun, sampai pada keputusan-keputusan kecil yang mengatur kemungkinan untuk tetap hadir bagi sesama rekan. Kerja-kerja yang sering dianggap administratif justru mampu mempertemukan afeksi, tanggung jawab, dan keberpihakan pada kerja yang tak kasatmata. Memang, satu sulaman tidak menghentikan penggusuran pesisir, dan satu sesi kelas tidak membalik algoritma yang menghapus nama-nama pemikir puan.
Namun, kerja-kerja kecil ini menyulam jaringan yang setidaknya dapat mempersulit penghapusan. SPP Goes to School dan Telusur Waris membawa komitmen ini dengan menggerakkan nama-nama pemikir puan ke ruang kelas dan melalui kain-kain di tangan sebagai medan tempat waris dan ingatan bertemu. Keduanya adalah milik bersama apabila kebersamaan dapat terus dirawat.
MIWF 2026 memberi kami kesempatan untuk menguji kembali makna perjumpaan publik. Di tengah ketidakpastian, membaca festival perlu turut melihat apa yang terjadi di luar panggung dan di luar dinding pameran. Di masa kini, kerja perawatan baru mulai memperoleh pengakuan hukum, pesisir dan sumber air terus diperebutkan, dan banyak orang masih menanggung ketidakpastian dalam kehidupan sehari-hari.
Perayaan sekiranya dapat memelihara kemampuan untuk mendengar tekanan-tekanan yang dari tadi terus terucap. Kerja perawatan dalam perayaan meneruskan kemungkinan itu ke tangan-tangan berikutnya, satu langkah di jalan yang masih begitu panjang. Rasanya, kerja-kerja ini perlu terus disemai agar dapat bergerak, sambil sesekali membuka ruang untuk singgah, beristirahat, dan berbagi kabar.

